PAMBURU MASA

Welcome and thank's. Bersama saya kita menembus dunia kegelapan untuk menuju ke dunia terang yang bersih.

Sabtu, 16 Juli 2011

KONTROVERSIALNYA PARA PANGERAN ARAB

(Berita Pada Rabu, 14 Jul 2010)

Pangeran Saudi Itu Bekerja Sama Dengan Rupert Murdoch


Pangeran Saudi, Alwaleed bin Talal bin Abdulaziz Al Saud dilaporkan saat ini berencana untuk meluncurkan sebuah saluran televisi berbahasa Arab 24 jam.

Saluran televisi ini didirikan atas kemitraan dengan jaringan Fox yang dipunyai oleh Rupert Murdoch, dan telah merekrut wartawan Saudi yang penuh dengan kontroversial, Jamal Khashoggi sebagai direktur stasiun televisi.
Padahal, Murdoch hampir setiap hari menayangkan histeria anti-Muslim/Islam di Fox News, Amerika Serikat.
Misalnya saja, acara The Daily Show's Jon Stewart terus-terusan mengehmbuskan kecenderungan anti-Islam awal pekan ini.
Selama ini Fox sering membuat pernyataan kontroversial tentang Islam. Brand "teroris" atau "simpatisan teroris"—menjadi sebutan atau menyamakan Islam dan semua pengikutnya dengan ekstremis radikal. (sa/mediamatters/thenational)

(Berita Pada Sabtu, 12 Jun 2010)

Pangeran Saudi 'Liberal' Desak Raja untuk Mundur Sebelum Revolusi

Mesir (Voa-Islam.com) - Seorang pangeran kerajaan Saudi yang tinggal di pengasingan menyerukan kepada raja Abdullah dan keluarga kerajaan yang memerintah untuk mundur dan pergi dari negara kerajaan tersebut sebelum terjadi kudeta militer atau revolusi akibat ketidaksukaan rakyat yang semakin meningkat.

Saluran TV Iran, Press TV melaporkan pada hari Rabu (09/06) bahwa Pangeran Saudi, Turki bin Abdul Aziz Al Saud memperingatkan keluarga kerajaan negara itu untuk mundur dan pergi dari negara tersebut.

Dalam sebuah surat yang diterbitkan oleh kantor berita Wagze pada hari Selasa, pangeran yang tinggal Kairo itu meminta keluarga yang memerintah Arab Saudi untuk pergi sebelum kudeta militer atau revolusi terjadi di negara tersebut.
Pangeran tersebut memperingatkan pemerintah Arab Saudi dari sebuah nasib yang sama terhadap pemimpin Irak yang di eksekusi, Saddam Hussein dan raja Iran yang digulingkan Shah Mohammad Reza Pahlevi.

Dia memperingatkan bahwa keluarga kerajaan Saudi tidak lagi mampu memaksakan peraturan pada masyarakat, hukum-hukum yang diadopsi di negara itu, mengganggu kehidupan pribadi seseorang dan undang-undang tersebut tidak merupakan dasar spiritual dari masyarakat Saudi.
"Jika kita bijaksana, kita harus menyerahkan negara ini kepada rakyatnya, yang ketidaksukaannya kepada kami meningkat," kata Pangeran Turki.

Pangeran Turki merupakan anggota keluarga kerajaan Arab Saudi, tetapi menganut apa yang disebut "pandangan liberal".
Sementara itu, saat ini Raja Saudi Abdullah dapat bersaing dalam hal liberalisme dengan pangeran buronan yang tinggal di Mesir tersebut.

Raja Abdullah patuh terhadap "Islam toleran". Ratusan imam dan ulama Islam di universitas-universitas dipecat di bawahnya. Ini adalah bahwa di bawah pemerintahnnya "reformasi Islam" sekarang sedang dilakukan.

Raja Abdullah merupakan raja Saudi yang untuk kali pertama dalam sejarah kerajaan tersebut, mendirikan lembaga di Semenanjung Arab bertuliskan namanya sendiri (Universitas Sains dan Teknologi Raja Abdullah) dengan mahasiswa yang bercampur baur antara pria dan wanita di mana wanitanya berjalan dengan pakaian ketat dan setengah telanjang, dimana tempat disko dan pesta pora malam dinyatakan sebagai manifestasi dari liberalisasi, demokrasi dan reformasi yang dilakukan oleh keluarga kerajaan. (kavkaz)

(Berita Pada Ahad, 28 Mar 2010)

Seorang Pangeran Saudi Tertangkap Bawa Heroin


Apa seperti ini semua kelakuan kerabat keluarga kerajaan? Sebelumnya ada keluarga kerajaan Saudi - seorang puteri Saudi yang 'bunting' diluar nikah dengan pacarnya di Inggris dan belum lagi kelakuan ponakan almarhum Raja Fahd, sepupu dari raja Abdullah Saudi, pangeran Walid At Talal yang menyebarkan benih-benih kerusakan moral di wilayah Timur tengah lewat saluran TV MBC dan yang lainnya. Dan sekarang satu lagi kerabat keluarga kerajaan bikin 'ulah'.
Pasukan keamanan Lebanon telah menangkap seorang pangeran Saudi di Bandar Udara Internasional Rafiq Hariri di Beirut setelah mereka menemukan kokain di tangannya selama berlangsung pemeriksaan rutin terhadap penumpang.
Pangeran Saudi yang berumur 51 tahun, yang tidak diidentifikasi namanya hanya disebut berinisial YBAA, tertangkap tangan membawa kokain yang diperkirakan sekitar 16,3 gram; bernilai sekitar 1.600 dolar. Ia akan meninggalkan Lebanon untuk menujut ke Prancis, lapor surat kabar berbasis di Beirut Al Akbar pada hari Kamis lalu.
Pangeran Saudi itupun kemudian dibawa ke Kantor Pengawasan Obat untuk menjalani pemeriksaan lengkap.
Pangeran Saudi tersebut melaporkan kepada penyidik bahwa kokain yang ditemukan adalah "untuk penggunaan pribadi" dan ia "mendapatkannya dari seorang teman yang saat ini berada di Arab Saudi."
Namun, pejabat kehakiman mengatakan kepada harian Al Akbar bahwa pangeran itu ternyata membeli kokain dari sebuah klub malam di sekitar Beirut Gemmazeh.
Para pejabat di Kedutaan Saudi di Beirut segera dihubungi dan diberikan informasi tentang penangkapan sang pangeran. Beberapa jam kemudian, pangeran Saudi itupun dibebaskan dengan jaminan. (fq/prtv)




(Berita Pada Sabtu, 13 Feb 2010)

Memalukan!! Pangeran Saudi Berjabat Tangan dengan Zionis Penjagal Palestina

PALESTINA (voa-islam.com): Mantan Perdana Menteri Libanon, Selim al-Hoss, mengutuk Pangeran Arab Saudi setelah berjabat tangan dengan pejabat Zionis, Pusat Informasi Palestina melaporkan.

PIC menunjukkan bahwa saat ini "sipil resmi", kepala deputi Menteri Luar Negeri Zionis Ayalon sebelumnya adalah seorang jenderal yang terlibat dalam persiapan perang di Jalur Gaza, serangan itu akhirnya mengakibatkan banyak korban tewas di kalangan penduduk sipil.

Selim al-Hoss juga mengutuk pertemuan antara Arab Saudi Pangeran Turki al-Faisal dan Ayalon. Dia menekankan bahwa tidak ada orang Arab yang memiliki hak untuk merangkul pejabat "Israel", dan terutama yang tangannya dilumuri dengan darah rakyat Palestina.

Mantan kepala Dewan Keamanan Arab Saudi, Pangeran Turki al-Faisal, hari Sabtu di konferensi Munich yang mebahas masalah-masalah keamanan dengan wakil menteri luar negeri dari rezim Zionis, menjabat tangan dan berbicara dengan dia.

Posisi resmi Kerajaan Arab Saudi bukanlah untuk memiliki kontak dengan entitas Zionis dan rezim yang ada di sana, sampai masalah Palestina diselesaikan.

Dan juga, HAMAS akan datang ke Moskow dimana mereka akan berjabat tangan dengan para pembunuh rakyat Chechnya yang tangan-tangan mereka masih tertutupi dengan darah rakyat Kaukasia Muslim, ini akan mempermalukan mereka secara luas.

Mereka melakukanya secara teratur, menjelaskan tindakan mereka sebagai "politik nyata". Oleh karena itu, tidak jelas apa yang bisa membedakan antara Khaleed Meshaal atau Ismail Haniya dan Pangeran Turki al-Faisal, mereka semua bersanding dengan para pembantai umat Islam. [kc]

 
(Berita Pada Senin, 22 Feb 2010)

Pangeran Saudi Jadi Tersangka Pembunuhan Ajudan Sendiri

LONDON (SuaraMedia News) – Seorang pangeran Arab Saudi muncul di pengadilan dengan tuduhan membunuh ajudannya di sebuah hotel bintang lima di tengah kota London.
Saud bin Abdulaziz bin Nasir bin Abdulaziz Al Saud, 33, berbicara hanya untuk mengkonfirmasi detail pribadinya di pengadilan rendah kota Westminster.

Ia dituduh membunuh Bandar Abdullah Abdulaziz, 32, yang ditemukan di Hotel Landmark di Marylebone pada hari Senin.
Setelah persidangan, Al Saud dikirim lagi ke tahanan untuk hadir di Old Bailey tanggal 28 Mei mendatang.
Sidang dengar pendapat untuk menentukan jaminan dijadwalkan akan berlangsung minggu depan.
Otopsi terhadap jasad Abdulaziz menemukan bahwa ia tewas akibat pencekikan dan luka di kepala.
Michael Wolkind QC, konsul untuk Al Saud, menyebut kliennya “sang pangeran” di dalam pengadilan.
Ia mengatakan, “Kami menantikan sebuah persidangan di mana kami akan mengekspos sebuah kasus penuntutan yang telah mengubah hubungan pertemanan dengan mendiang menjadi hubungan palsu antara majikan dan pelayannya.”
“Penuntutan itu telah mengubah tragedi menjadi tuduhan pembunuhan yang keliru.”
Al Saud dibantu oleh seorang penterjemah bahasa Arab dalam dengar pendapat itu saat Michael Wolkind QC, pengacaranya, mengatakan kepada pengadilan bahwa kliennya adalah seorang pangeran yang telah mengalami salah tuduh. Ia juga dituntut dengan satu tuduhan menyakiti tubuh.
Al Saud ditahan hanya beberapa jam setelah ditemukannya jasad Abdullah oleh seorang pelayan di dalam kamar Hotel Landmark. Salah seorang sumber mengatakan bahwa sang pangeran diyakini berada di London sebagai turis dan terbang keliling dunia ditemani oleh ajudannya.
Sejumlah sumber mengatakan bahwa Al Saud tampak seperti anggota kerajaan kelas menengah. Menurut polisi, ia tidak dilindungi oleh kekebalan diplomatik.
Keluarga kerajaan Saudi, yang dikenal dengan nama House of Saud, memiliki sekitar 7.000 anggota, dengan yang paling berpengaruh sekitar 200 orang yang paling dekat dengan Raja Abdullah.
Al Saud tidak mengajukan pembelaan ketika berada dalam pengadilan rendah Westminster setelah ditangkap oleh detektif Scotland Yard Kamis larut malam.
Namun, pengacaranya memberitahu pengadilan bahwa sang pangeran membantah telah memukuli dan mencekik Banda Abdullah di kamar suite Hotel Landmark pada hari Senin.
Anggota kerajaan Saudi yang diyakini merupakan putra dari keponakan raja itu juga membantah telah melukai tubuh Abdullah di hotel pada tanggal 22 Januari, sesaat setelah mereka menginjakkan kaki di London.
Darren Watts mengatakan kepada pengadilan sebuah perubahan terbaru dalam hukum yang berarti bahwa sang pangeran tidak dapat mengajukan jaminan di pengadilan tingkat rendah.
Itu berarti ia harus tetap berada di penjara hingga hari Senin atau Selasa ketika Wolkind berusaha mencari cara agar ia dibebaskan dengan jaminan dalam sidang dengar pendapat tertutup di hadapan seorang hakim di pengadilan kriminal pusat, London.
Hakim distrik Timothy Workman, yang mengetuai sidang dengar pendapat, menetapkan tanggal 28 Mei sebagai sidang dengar pendapat lanjutan, ketika pengacara terdakwa mengajukan pembelaan.
Kematian di salah satu kamar hotel bintang lima itu mengejutkan para karyawan dan tamu hotel prestisius yang populer di kalangan selebritis itu.
Harga kamar-kamar di Hotel Landmark, yang dibangun tahun 1899, berkisar antara 400 poundsterling per malam hingga 2.400 poundsterling per malam untuk suit presidensial.
Di tahun 2007, Michelle Obama menggelar acara penggalangan dana di hotel itu untuk meningkatkan kesempatan suaminya masuk ke Gedung Putih, dengan harga tiket bagi para pengunjung sebesar 1.150 poundsterling.
Pada hari Selasa (16/02), manajer umum hotel Francis Green mengeluarkan sebuah pernyataan bela sungkawa.
“Polisi telah meluncurkan sebuah penyelidikan seputar insiden ini dan kami bekerjasama dengan mereka sepenuhnya dan karena itu tidak dapat berkomentar lebih jauh.”
Seorang juru bicara kepolisian Metropolitan mengatakan bahwa kematian itu diselidiki oleh sejumlah detektif dari satuan pembunuhan dan komando kejahatan serius. (rin/dm/tn) www.suaramedia.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar